18 Agustus 2013

[Cerpen] Secangkir Hati dalam Espresso


Heeeeiii Mein Kamerads!

Apa kabarnya?

Sudah lama yaa saya ngga mengisi blog ini. Maaf yaa.. Selain konsen pekerjaan dan rumah tangga, pikiran dan kreativitas saya juga tertumpah ke blog saya yang satu lagi: http://firstavina.com. Namun, menyadari bahwa kawan-kawan reader di blog ini juga cukup banyak, dan mungkin menunggu update-an konten blog, hmm.. ya akhirnya saya posting pula di sini.

Kali ini ada Cerpen, yang saya buat (secara santai, selama 3 jam) berdasarkan inspirasi dari secangkir kopi. Konsep ceritanya sebetulnya sudah ada berbulan-bulan lalu. Hanya saja, karena saya tidak sempat menyelesaikan ketikannya, stagnan deh. Baru malam ini saya bisa merampungkannya. Berikut adalah cerita lengkapnya. Selamat membaca.. ;)

Hati dalam Secangkir Espresso


‘Hmm.. Cewek itu lagi,’ Donna membatin. Matanya tajam memperhatikan sesosok perempuan bertubuh sedang, memasuki area kafe. Langkahnya mantap, seperti biasa, melintasi bersaf-saf sofa, menuju counter. 
 
“Selamat sore. Satu Cookies and Cream Frappe dan satu Espresso Macchiato,” kata perempuan itu. Wajahnya yang manis tersenyum ceria.

“Ada yang lain? Cake? Pie? Cookies?” tanya Meila, barista yang bertugas.

“Bisa menyusul. Minumannya aja dulu. Thanks,” jawab dia.

“Oke, Mbak. Atas nama siapa?”

“Lilly. L, I, double-L dan y,” gumam Donna, persis penuturan perempuan itu. Meila melirik Donna cepat, tapi tetap cekatan menyelesaikan transaksi dengan pelanggan perempuan bernama Lilly tersebut. Syukur, tampaknya si pelanggan tidak mendengar gumaman Donna. Ekspresinya tidak berubah, tetap ceria.

“Oke, Mbak Lilly, segera kami antar. Ditunggu ya, terima kasih atas pesanannya,” kata Meila.

“Terima kasih,” balas Lilly, seraya berbalik dan berlalu dari counter.

Meila segera menghampiri Donna yang sedari tadi berdiri di belakangnya, sibuk menyiapkan pesanan pelanggan lain. “Loe hapal bener pelanggan tadi,” tegurnya.

“Hehe.. Iya. Lihat deh, biasanya dia duduk di sofa pojok, sebelah kanannya pintu masuk,” Donna memberi isyarat dengan arah mata. Meila, penasaran, mengikuti gerak-gerik perempuan bernama Lilly tadi. Benar saja, seperti kata Donna, Lilly duduk di sofa pojok, sebelah kanan dari pintu masuk.

Lokasi sofa yang dipilih Lilly memang sepi dari lalu-lalang orang, tapi bisa dengan mudah dilihat dari luar kafe dan juga strategis untuk melihat keluar-masuk pelanggan kafe.

“Wah.. Kok loe tau dia bakal duduk di situ? Creepy. Loe nambah skill jadi dukun?” kata Meila.

“Sial,” Donna cemberut, tapi lalu terkekeh. “Nggak lah. Loe baru sih ya, tugas di counter sini. Lilly ini pelanggan reguler. Dia selalu datang setiap Kamis malam, sekitaran jam 7-an beginilah. Pesanannya selalu dua itu, Cookies and Cream Frappe dan satu Espresso Macchiato. Dia selalu minum yang Cookies and Cream Frappe, sedangkan Espresso Macchiato-nya dibiarkan saja sampai dingin, dan tetap nggak diminum sampai dia pulang,” jelas Donna. Rinci.

“Haaaa? Loe sampai hapal begitu?” Meila melotot.

“Yaa gimana ngga hapal. Udah 18 bulan terakhir dia jadi pelanggan kita. Paling hanya sesekali aja dia pesan apple turnover, kalau dia lapar,” kata Donna.

What? Sudah 18 bulan terakhir begitu terus? Hanya setiap Kamis sore?”

“Iya. Udah kayak ritual aja, makanya gue sampe hapal,” Donna nyengir lebar, “Nanti loe perhatiin deh. Abis dia duduk, pasti buka buku novel, atau mainin tabletnya. Dia bakal stay sampai jam setengah sepuluh, trus pulang.”

“Jadi, dua jam-an dia di situ terus? Eh, tunggu, espresso-nya ngga diminum? Trus ngapain dipesan dong?” Meila mendadak penasaran.

“Nggak ngerti kenapa. Para barista yang tugas di sini selalu nanya hal sama kayak loe barusan itu. Temen-temen kita di sini jadi saling main tebak-tebakan, malah sampe ada yang taruhan segala. Salah satunya menebak kalau espresso-nya itu untuk temen dia,” urai Donna.

 “Trus, temennya dateng nggak?”

“Nggak pernah ada temennya. Dia selalu sendirian sampai pulang. Kita mau tanya, tapi ngga ada yang beranilah, secara memesan apapun, diminum atau nggak, dimakan atau nggak, itu kan hak pelanggan,” sahut Donna.

Tanpa mengetahui dirinya sedang diperhatikan Donna dan Meila, Lilly duduk santai di sofa pilihannya. Tangan kanannya meraih ke dalam tas, mencari-cari sebentar, dan akhirnya keluar dari tas sambil memegang tablet berlayar 8 inch. Kemudian Lilly merapikan kembali tasnya, memerbaiki posisi duduknya, lalu jemari lentiknya mulai sibuk di atas touch screen tablet putih berbalut casing kulit berwarna hijau muda itu.

Ketika pesanan Cookies and Cream Frappe dan Espresso Macchiato-nya tiba, Lilly menghentikan kegiatan menyentuh layar tablet guna berterimakasih. Selama beberapa detik, mata Lilly memandangi pesanannya tadi. Ia memutuskan untuk menyeruput Cookies and Cream Frappe melalui sedotan hijau berulir bening yang tersemat manis di dalam pinggiran gelas. Usai meminumnya, ia menatap ke arah sofa kosong di depannya.

Lilly menggeser cangkir Espresso Macchiato ke sisi berlawanan mejanya, seakan sedang menyodorkan sang cangkir kepada seseorang yang duduk di hadapannya. Lilly tersenyum sendiri kepada cangkir espresso, lalu ke sofa kosong tersebut.

Sementara itu, di belakang counter, Donna dan Meila saling menepuk lengan satu sama lain sambil memerhatikan tingkah laku Lilly.

“Tuh kan.. Dia kayak menyiapkan espresso itu untuk orang lain,” ujar Donna.

“Iiih.. Trus pernah nggak sih temennya itu datang?”

“Nggak pernah. Nggak sekalipun dia pernah datang sama orang lain,” jawab Donna.

“Hmm.. Apa temennya itu sudah meninggal ya? Trus jadi dia menghidangkan untuk hantunya gitu?”

“Ih, kayaknya elo deh yang dukun,” Donna melotot nyolot ke arah Meila. Yang dipelototi cekikikan, geli.

“Nggak, gue bukan dukun. Bukan paranormal juga. Gue ngga bisa liat hantu, kok. Takut, ah, Coy! Maksud gue, jangan-jangan dia ke sini untuk mengenang teman, atau pacarnya, yang sudah meninggal gitu. Jadi dia seakan-akan menghidangkan espresso itu buat si almarhum,” kata Meila.

“Itu bukan teori baru sih, tapi siapa yang mau nanyain bener atau nggaknya ke dia, coba?” Donna bersungut-sungut.

Selama kedua barista itu mengira-ngira, Lilly melanjutkan aktivitasnya di atas tablet. Membaca berita di media online, rupanya. Lalu ia mengakses media sosial dan inbox email-nya. Sesekali ia menghirup kopi dinginnya, sambil memandangi espresso di hadapannya.

Tak ada yang mengetahui isi hati Lilly, selain ia sendiri dan Tuhan, tentunya. Hal ini membuat Lilly sedih, sebetulnya, tapi juga terhibur. Tak ada yang tahu bahwa dengan secangkir espresso tersebut, Lilly menggantung hatinya.

“Nggak mungkin dia meninggal. Pasti masih hidup. Kalau sudah meninggal, gue pasti denger kabarnya,” tulis Lilly di Blackberry Messenger (BBM), 21 bulan lalu.

“Sori, Lil, tapi ini serius. Informasinya A1 nih. Dia meninggal karena kecelakaan di Brunei,” balas Daniel, orang yang sedang BBM-an dengan Lilly waktu itu.

“Kapan kejadiannya, coba? Gue kan tetangga sebelah rumahnya juga. Kalau emang dia meninggal, apalagi kecelakaan, pasti gue denger dong. Minimal denger pengumumannya di masjid. Sori, Dan, tapi gue ngga percaya,” ketik Lilly lagi.

“Ya terserah elo percaya atau nggak, tapi bunyi kabarnya begitu yang gue dapet.”
Membaca kalimat itu, Lilly mendadak emosi. Ia membanting BB-nya ke lantai. BB itupun berderai, sampai pelindung belakang dan baterainya pun keluar dari bilik handset. Menyadari kebodohannya, Lilly kembali meraih BB itu, memasang kembali baterai, mengusap-usapnya lalu menyalakannya. BB booting dan semenit kemudian menyala, normal. ‘Untung nggak hancur,’ gumamnya.

Adalah Roman, orang yang dibicarakan dalam BBM antara Lilly dengan Daniel itu. Roman adalah sahabat Lilly sejak kecil. Mereka tumbuh bersama, bahkan pergi ke sekolah yang sama. Mereka baru terpisah di masa kuliah, ketika Roman melanjutkan pendidikannya ke Malaysia. Lilly, mengetahui rencana Roman sekolah jauh dari kampung halaman mereka, memutuskan untuk keluar juga dari kota itu. Ia tak ingin kuliah sendirian ataupun terkesan konyol karena menunggu kepulangan Roman. Padahal Lilly selalu menunggu Roman pulang.

Ya. Entah mulai kapan, Lilly mulai gemar menunggu Roman pulang. Ia senang berdekatan dan terus berbincang dengan kawan mainnya itu. Meski Lilly meyakinkan dirinya bahwa ia tidak tertarik pada Roman, yang ternyata tumbuh menjadi laki-laki tampan dan berpostur tinggi besar, ia tak bisa menghalangi ada rasa berbeda tumbuh di balik hati polosnya itu.

Lilly jatuh cinta. Namun, Roman tak pernah mengetahuinya. Tak sepatah katapun soal “suka” pernah terlontar dari mulut Lilly, meski Roman menunjukkan perhatian lebih seiring mereka tumbuh dewasa. Dalam hati kecil, Lilly berasumsi, tak mungkin Roman menyukainya. Lilly merasa tidak cantik, tidak menarik. Berbeda dengan Roman yang selalu tampan dan dikelilingi kawan-kawan perempuan mereka.

Bagi Lilly, Roman tampak seperti matahari: bercahaya dan agung. Sedangkan Lilly merasa dirinya bulan sabit, yang hanya tampak bersinar ketika matahari berkenan meminjaminya cahaya.

Namun Lilly tak pernah lagi mendengar kabar dari Roman. Minggu-minggu berlalu menjadi bulan-bulan. Lalu menjadi tahun-tahun yang panjang. Lima tahun, Lilly menyelesaikan kuliahnya, tapi Roman tidak kembali ke kampung mereka. Lima tahun setelah itu, Roman tak jua kembali.

Di tahun ketiga setelahnya, Daniel memberi kabar tak menyenangkan itu kepada Lilly. Kabar, yang menurut Lilly, tak masuk akal. “Lebih baik gue mendengar kabar dia ternyata sudah menikah. Itu lebih bagus daripada mendengar kabar dia meninggal, tapi nggak jelas begini,” keluh Lilly kepada Rie, kawan lama satu sekolahan, 20 bulan lalu.

“Siapa meninggal?” tanya Rie.

“Roman.”

“Roman? Meninggal? Kapan?” Rie tampak sangat terkejut.

“Dua tahun lalu kata Daniel,” jawab Lilly.

“Hah? Nggak mungkin.. Gue ketemu Roman di Gandaria City, dua minggu lalu,” kata Rie.

What? Serius? Beneran Roman?”

“Ya seriuslah, orang gue sempet ngobrol sebentar sama dia. Tapi terus dia buru-buru pergi, sampe ngga sempet dikenalin sama suami gue,” sahut Rie.

Lilly melotot. Antara gembira, tidak percaya, jengkel dan terkejut. Namun, bagaimanapun, berita itu membuatnya lebih gembira daripada perasaan lainnya. Jadi, Roman tidak meninggal. Lalu, kenapa ia dikatakan begitu?

“Iya, iya, gue akui kalau Roman masih hidup,” Daniel menyerah, setelah intensif dibombardir pertanyaan menyelidik dari Lilly, sebulan penuh.

“Trus kenapa loe berani bohongin gue?” tanya Lilly, seraya menatap Daniel ala pembunuh berdarah dingin.

“Sori, sori.. Gue disuruh merahasiakan keberadaan dia. Ampun, Mpok.”

“Siapa yang suruh merahasiakan?”

“Roman sendiri. Dan… KPK,” menyebut kata yang terakhir, Daniel memelankan suaranya. Namun, Lilly mendengarnya.

“KPK? Roman kena skandal? Dia korupsi? Nggak mungkin! Bukan sifatnya,” Lilly tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.

“Bukan, bukan. Oiii.. Stop, dong. Bukan Roman yang korupsi, tapi atasannya. Roman jadi saksi kunci, karena dia dan empat kawannya melaporkan atasan mereka ke KPK untuk dugaan korupsi. Nah, salah seorang pelapor itu kemudian tewas misterius. Roman sendiri benar-benar mengalami kecelakaan, yang diduga direkayasa, dengan tujuan untuk membuat tewas juga. Dua orang sisanya mundur dan membatalkan laporan, karena takut. Sedangkan Roman, dibiarkan saja dikira tewas, padahal dia dilindungi penuh sama negara dan berganti identitas untuk keamanannya,” Daniel menjelaskan.

Oh my God..” sepanjang Daniel bercerita, Lilly merasa mulas dan lemas.

Please, jangan buka rahasia ini ke siapapun. Roman harus tetap dikira tewas. Oke?” kejar Daniel. Lilly, tak sanggup menjawab dengan kata-kata, hanya mengangguk. Selama 10 menit ke depan, keduanya sama-sama terdiam.

“Dan, gue kangen sama Roman,” desis Lilly akhirnya.

“Ha?”

“Loe masih kontak-kontakan sama dia kan? Ngaku loe!”

“Iya iya, masih,” Daniel tergagap.

“Bilang sama dia, gue pengen ketemu,” ujar Lilly mantap.

“Eh, gue ngga tau bisa apa ngga dipenuhi permintaan loe ini.”

“Yang penting loe sampaikan aja ke dia. Ada yang mau gue katakan ke dia, tapi dia harus dengar sendiri dari mulut gue. Sampein ke dia ya! Awas kalo nggak,” tegas Lilly, sambil mencubit lengan Daniel.

“Adudududuh.. Iya, iya. Gue sampein. Tapi soal dia menemui loe atau ngga, itu gue ngga bisa janji, ya..”

“Iya gapapa. Gue bakal nunggu dia, setiap Kamis, mulai jam 7 malam, di kafe ini..” lantas Lilly mencoret-coretkan nama kafe dan alamatnya di selembar kertas, “Bilang sama dia, gue akan terus nunggu dia di waktu yang gue tulis itu.”

“Iya, iya,” Daniel menerima kertas itu dan menyimpannya di saku.

Kemudian, pada hari Kamis, 5 hari setelah Lilly bertemu Daniel, ia mulai datang ke kafe dimaksud. Ia memesan Cookies and Cream Frappe untuk dirinya. Dan secangkir Espresso Macchiato, kopi bercampur foamy milk, minuman favorit Roman, just in case Roman benar-benar datang.

Delapan-belas bulan berlalu. Roman tak pernah datang. Daniel sendiri bersumpah bahwa ia telah memberikan kertas bertuliskan kafe dan alamat serta hari dan jam yang dituliskan Lilly waktu itu, kepada Roman.

“Jadi, artinya, Roman tidak pernah bisa menemui gue. Tidak bisa? Atau tidak mau?” ketik Lilly, di BBM untuk Daniel.

“Lil.. Gue ngga tau harus berkata apa. Gue juga ngga berani memaksa dia untuk menemui loe. Dia sendiri ngga pernah ngomong apa-apa ke gue,” balas Daniel.

“Dan, gue sayang dia. Itu yang pengen gue katakan ke dia. Pengen gue katakan sendiri,” tulis Lilly lagi.

“Gue rasa dia tau, Lil. Sejak dulu dia tau. Tapi gue ngga tau apa tanggapannya.”

Lilly menghela nafas panjang. Setiap Kamis, ia tetap menunggu Roman. Berkali-kali, ia merasa sia-sia telah menunggu dan tak pernah sekalipun Roman menunjukkan dirinya. Berkali-kali pula ia merasa ingin menyerah dan tak lagi pergi ke kafe tersebut, tapi entah kenapa kakinya selalu otomatis bergerak ke sana, setiap Kamis, pukul 7 malam.

“Perasaan dia ke gue nggak sama dengan perasaan gue ke dia kali ya, Dan? Maksudnya, dia ngga sayang ke gue,” ketik Lilly lagi, lima menit kemudian.

“Aduuuh, Mpok. Gue ngga berani jawab. Serius. Tapi gue cuma bisa bilang, jangan pernah mencoba menduga-duga apa isi pikiran orang lain, karena pasti salah hasilnya,” balas Daniel.

Lilly tersenyum. Pahit. Ia meminum hirupan terakhir Cookies and Cream Frappe-nya. Matanya yang basah memandang cangkir Espresso Macchiato di hadapannya. Ia baru menyadari, ada bentuk hati yang terbuat dari foamy milk dalam espresso di cangkir itu. Walaupun masih tampak seperti gambar hati, bentuknya sudah tidak keruan. Seperti bentuk hati Lilly. Dengan sedih, ia mengusap sayang cangkir yang sudah dingin tersebut.

Selanjutnya, ia berbenah dan bangkit dari sofa, lalu melangkah berat, keluar dari kafe.

Meila mengecek jam dinding. Pukul 21.30, seperti kata Donna sebelumnya. Meila melirik Donna, yang ternyata juga sedang menatapnya. Keduanya hanya saling melempar senyum kecut. Mereka merasa iba pada Lilly. Apalagi melihat airmatanya bergulir, seperti tadi.

Tenant table 7 done. Silakan dibersihkan,” seru Donna kepada petugas pembersih.

“Oke. Eh, table 7, ini Kamis ya?” tanya Marwan, yang hendak membersihkan.

“Iya. Kenapa?” sahut Donna.

“Hmm.. Nggak. Hehe..” Marwan berlalu. Donna menatapnya dengan alis bertaut. Tak biasanya Marwan sok misterius. Tapi, biarlah, akan ia tanyakan nanti.

Sekitar 15 menit berlalu, Marwan baru kembali ke counter, “Table 7 clean.”

“Kok lama amat?” Donna langsung menghampirinya.

“Oh, itu. Biasanya di hari Kamis jam segini ini, setiap kali tenant table 7 pulang, ngga lama kemudian pasti ada yang nyamperin meja itu dan meminum habis espresso-nya. Tadinya saya kaget. Tapi si Masnya itu bilang, itu kopi dia lupa dihabiskan,” jelas Marwan. Polos.

Mendengar itu Donna melotot. Kaget. “Serius? Si Mbak itu kan ngga pernah bawa teman.”

“Lha, yang saya dengar juga begitu. Cuman si Masnya itu ngotot kok, katanya itu kopi dia. Ya saya ngga bisa larang toh?”

“Yang mana orangnya?” Donna melongok ke arah table 7.

“Ya sudah pulang lah.. Kalau saya perhatikan sih, dia juga tenant kok. Biasanya duduk di seberang table 7. Hanya melihat ke arah si Mbak itu, menunggunya sampai pulang, nyamperin table 7, trus espressonya diminum deh,” ujar Marwan lagi.

“Orang yang aneh. Sejak kapan itu tenant begitu?”

“Hm.. Kalau ngga salah sih, lima bulan terakhir lah gitu,” jawab Marwan sambil melanjutkan langkah ke kitchen.

“Ih.. Orang yang aneh. Maunya kok minum gratisan,” Donna bersungut-sungut.

Di luar kafe, pelanggan kafe yang dianggap aneh oleh Donna tadi ternyata membuntuti Lilly. Sudah berbulan-bulan laki-laki itu ingin mencegat Lilly, tapi ia tak berani. Tak tega. Ia hanya bisa memandangi Lilly dari kejauhan. Tatapannya penuh kesedihan, dan rasa kesepian. Tak berapa lama, tampak Lilly masuk ke dalam taksi berwarna putih. Laki-laki “aneh” tadi terus memandanginya sampai taksi berbelok dan hilang dari pandangan.

Sang laki-laki menghela nafas, berat. Ia mengeluarkan sebatang rokok dan menyelipkannya di mulut. Tangannya merogoh kantong. Ia mendapati korek zippo-nya dilekati secarik kertas. Usai menyulut rokok, jemarinya membuka kertas tadi. Beberapa baris tulisan berisi nama kafe, alamat, hari dan waktu. Tulisan tangan Lilly.

Ia kembali memasukkan kertas itu dan zippo-nya ke dalam kantong jaketnya. Ia menghirup dan mengepulkan asap rokoknya pelan-pelan. Kelingking kanannya mengusap bibir yang ditumbuhi kumis dan jenggot tebal. Foam berbentuk hati yang ia hirup tadi ternyata menyisakan sedikit buih ujung bibirnya. Sambil memejamkan mata, ia meresapi buih putih kecil itu, seakan sedang menikmati sebuah kecupan manis.

“Suatu hari nanti, Lilly. Suatu hari,” gumam Roman seraya melangkah menjauhi kafe.

4 komentar:

bisotisme.com mengatakan...

seru juga ceritanya :)

Unknown mengatakan...

Pengen tarik sambil bilang...ntaaaarrr aja pulangnyaaa...!!!

Nina Razad mengatakan...

>> Om Bisot: Huehehehehe.. Seru juga komentarnya, Om.. :D

>> Athe: Wekekekekekeke.. Gemes yaa, Atheeee? Aku pikir manusia tu sebenernya sering begitu lho.. Berpapasan dengan "sang soulmate" tanpa disadari.. :D

irma_pnpm mengatakan...

seru ceritanya dan bikin penasaran..krn endingnya ngambang :)