14 November 2011

[TheKacrutTheme] Time Travelling - Cerpen

Untuk seorang penggila sci-fi seperti saya, konsep time travelling sudah akrab didengar telinga. Pun segala pro dan kontranya---memungkinkan atau tidak, teori-teori wormhole dan butterfly effect sebagai pintu periode, semua sudah pernah saya dengar dan saksikan (dalam film, of course!).

Dalam tantangan #TheKacrutMenulis kali ini, izinkan saya membahas Time Travelling dalam cerita fiksi berikut. Selamat menikmati.. :)


"Hey, Dul, minggir kau. Ini tempatku!" Seruan itu mengagetkan Abdul. Yang menghardik hanya tertawa. Merasa menang. "Ha..Ha.. Sori, brader. Tapi aku serius, kau minggirlah agak ke sana sikit," nada suara orang tadi lebih lunak, meski tetap lantang, demi menyaingi bisingnya gemeretak roda besi menggilas rel kereta api. Tanpa menjawab, Abdul menggeser pantatnya tiga kali, menjauh dari Samir.

"Lagi ngapain sih kau?" Samir mendekatkan wajahnya ke wajah Abdul, lalu mengikuti arah pandangan lelaki itu. Dua, tiga kali, seakan mencoba mengkalibrasi pandangan Abdul dan dirinya, Samir lantas mengangguk-angguk. "Ah, kau lihat cewek rupanya!" Samir mendengus, lalu setengah tak peduli, ia mulai bersandar pada Abdul. Yang disandari menoleh, jengah, seraya memposisikan diri agar lebih nyaman. Meski secara batin Abdul tidak keberatan, secara fisik ia tetap merasa berat disandari tubuh Samir yang tambun itu.

"Dapat berapa kau hari ini?" Samir bertanya sambil garuk-garuk punggung. Tangannya yang menggaruk dengan kasar terasa mendorong-dorong bahu Abdul. "Sudah makan?" tanya Samir lagi, tanpa menunggu jawaban dari pertanyaan yang pertama. Tetap, Abdul tidak menjawab. Tubuh mereka bergoyang-goyang mengikuti irama kereta api terakhir malam itu.

Sudah malam, tapi kereta ekonomi masih penuh sesak. Sebagian penumpang, Abdul yakin, tidak bayar. Penumpang ilegal. Tapi masinis dan kondektur kereta api ekonomi malam tampaknya tidak pernah keberatan dengan penumpang ilegal itu. Mungkin mereka berpikir, biarlah, yang penting orang-orang ini tidak memicu keributan, hitung-hitung membantu mereka pulang ke rumah masing-masing setelah seharian capek kerja di ibukota.

Abdul sendiri lebih senang menumpang di kereta api ekonomi malam. Penumpangnya rata-rata berkarakter ramai, tidak individualis, seperti penumpang kereta AC. Kadar toleransi pun tinggi. Jika melihat seorang perempuan, tua atau muda, berdiri, para lelaki yang kebetulan dapat tempat duduk, segera menawarkan tempat duduknya.

Malam ini saja Abdul menyaksikan sendiri ramainya para pengamen, pedagang, dan kuli-kuli bangunan, seperti dirinya, menikmati malam dengan lantunan lagu dangdut populer semacam Ayu Ting Ting dan Juwita Bahar dari band pengamen yang melakukan live performance. Belasan kuli bangunan malah berinisiatif berjoget-ria, membuat penumpang kelas pekerja kantoran, lelaki dan perempuan, cekikikan melihat tingkah mereka.

Abdul tersenyum. Matanya tetap menatap ke arah perempuan yang Samir singgung tadi. Ya, Samir benar, ia sedang memandangi perempuan itu. Perempuan bewajah cantik, berkerudung hijau, dengan tubuh semampai. Abdul memandangi perempuan itu penuh cinta. Ia tahu siapa perempuan itu, tapi sang perempuan pastinya tidak tahu siapa Abdul. Dan sebaiknya memang perempuan itu tidak tahu bahwa dirinya ada. Cukup di sini dan begini saja, Abdul sudah merasa puas.

Awalnya Abdul begitu terperangah saat pertama bertemu dengan perempuan itu. Rani, nama perempuan itu.  Tepatnya, Maharani, yang artinya Maharatu. Abdul tahu, karena ia yang menamainya begitu. Nama yang indah.

"Lai, kalau mau kenalan sama itu cewek, samperin sajalah," kata Samir. Tanpa Abdul sadari, Samir tidak lagi bersandar padanya, melainkan sedang memperhatikannya. "Sudah berapa bulan kau cuma pandangi dia saja. Jangan jadi pengecut lah," Samir tertawa.

Abdul tersenyum. "Kau benar, kawan. Malam ini aku akan menegurnya," katanya, sambil menepuk-nepuk bahu Samir. Yang ditepuk terkejut. Selama empat bulan ia mengenalnya, Abdul tidak pernah melakukan kontak fisik dengan siapapun. Meski ramah dan rajin membantu kawan-kawan lainnya, Abdul sangat jarang berbicara.

Entah kenapa, Samir mendadak merasa ia tidak akan bertemu lagi dengan Abdul. Perasaan itu mendorong Samir untuk merangkul Abdul. Yang dirangkul, lagi-lagi hanya tersenyum, bijak, seraya menguatkan tepukannya bahu Samir. "Jaga dirimu, kawan," ujar Abdul. Samir tak mampu menjawab. Drama lima detik itu tidak ada yang memperhatikan, karena semua penumpang sibuk melihat joget dangdut di tengah ruangan gerbong.

Usai melepaskan rangkulan Samir, Abdul mendekati perempuan bernama Rani itu.

"Pulang malam, Mbak?" tegur Abdul. Tubuhnya condong ke arah Rani, sedangkan tangannya bergelantungan di salah satu besi penyangga.

Perempuan yang ditegurnya melirik, curiga. "Oh, saya tidak bermaksud jahat. Hanya ingin memberikan ini," sambung Abdul seraya merogoh kantong celana dan menyodorkan kalung berpendan batu oval berwarna hijau dengan sebilah garis cahaya di tengahnya.

Perempuan itu keheranan. Masih tampak takut, walau sikap tubuhnya terlihat berani. Lelaki di samping perempuan itu tampak siaga, mungkin takut Abdul bermaksud jahat. "Tenang aja, Mas, saya kenal dengan Mbak Rani ini," kata Abdul sambil tersenyum ramah kepada lelaki tersebut. Melihat kharisma dan ketulusan dari senyum Abdul, sikap lelaki tadi mengendur.

"Maksudnya Mas bilang kenal saya, kenal dari mana? Kok memanggil saya Rani?" akhirnya sang perempuan angkat suara.

"Itu nama Mbak, kan?"

"Bukan. Itu bukan nama saya," kata sang perempuan sambil tertawa sumbang.

Abdul tersenyum, "Saya tahu. Nama Mbak adalah Rayjihan Maharani. Rani."

"Lho, Jihan, kok Mas ini tahu nama lengkapmu?" kata lelaki yang duduk di samping itu.

"Mas tau dari mana?" kali ini sikap Rani berubah drastis. Kaget, tapi lebih rileks. "Tidak ada yang memanggil saya Rani, kecuali..."

"Sekali lagi, saya nggak bermaksud mengganggu Mbak. Hanya ingin memberikan ini," Abdul kembali menyodorkan kalung tadi ke tangan Rani. Kali ini Rani menerima. Ia menggenggam kalung itu. Semakin terkejut saat memperhatikan batu mata kucing berwarna hijau itu.

"Ini......" lidah Rani mendadak kelu, "Mas, ini kan...." Ia terlihat kebingungan, bolak-balik berbicara dengan lelaki di sampingnya dan kepada Abdul. Farid, lelaki di samping Rani, lebih bingung lagi. Ia tidak mengerti apa yang dibicarakan Rani.

Sementara itu Abdul mengangguk, di wajahnya masih tersemat senyuman lebar. Tanpa Rani menyelesaikan kalimatnya pun, ia sudah mengerti. "Kamu sudah besar. Salam hormat saya untuk ibumu," ujar Abdul, bersiap melangkah.

"Tunggu! Tunggu!" Rani mencoba meraih tangan Abdul, antara bingung dan shock.

Farid, makin bingung, "Lho?"

"Tunggu!" Rani bangkit dari duduknya, mencoba mengejar Abdul, lalu memeluknya cepat-cepat. Keadaan di gerbong kereta mendadak berubah. Sebagian besar penumpang mengira ada yang kemalingan.

"Ada apa? Ada apa?" penumpang saling bersahutan.

Tidak ingin menarik perhatian lebih lanjut, Abdul melepaskan pelukan Rani. Cepat-cepat ia berbisik, "Kita akan bertemu lagi. Kita akan bertemu lagi."

Rani, tampak enggan melepaskan pelukannya, tapi tangan kanannya ditarik oleh Farid, yang lebih shock lagi melihat pelukan tiba-tiba itu. Rani melepaskan diri dari tarikan Farid dan menyambar bros yang tersemat di jilbabnya lalu ia tempatkan di telapak tangan Abdul. Tersenyum, Abdul menerimanya, kemudian menghilang di antara penumpang yang mulai mengerumuni Rani.

"Tidak, saya tidak apa-apa. Tidak dijambret," kata Rani, menjawabi penumpang yang bertanya.

Setelah keributan itu mereda, Farid, dengan wajah masygul memandangi Rani. "Nanti saya ceritakan. Saya janji. Tapi jangan kaget.."

Pada waktu bersamaan, Abdul sudah berada di ujung gerbong, menghadap ke luar. Sesekali ia melihat ke jam tangannya. 'Sebentar lagi,' gumam Abdul, dalam hati. Beberapa menit kemudian, di suatu tempat di antara sawah dan perkebunan yang gelap di daerah Bogor, waktu tampak terhenti bagi Abdul.

Kalem, ia melihat ke dalam gerbong yang disesaki penumpang. Semua penumpang tampak seperti patung. Terdiam. Kepulan asap rokok pun berhenti di udara. Abdul mengangguk. Ia turun dari kereta dan melangkah sekian ratus meter melintasi persawahan dan perkebunan. Suasana gelap gulita hanya diterangi bulan berusia 21 hari di langit malam. Abdul berhenti di hadapan batu gunung berukuran cukup besar yang  terhunjam ke tanah di pinggir sawah. Menunggu sesaat.

Tak lama sebuah cahaya berpendar di udara. Berwarna ungu terang, pink dan putih. Awalnya kecil. Lama-lama membesar, membentuk vortex. Berdenyut, membesar lalu mengecil. Cahaya ungu terang, merah muda, kuning gading dan putih tampak melingkar dan meletup-letup di permukaan luar. Di tengah vortex hanya kegelapan dengan pijar hijau cerah. Abdul mengucap beberapa baris kalimat doa, lalu masuk ke tengah vortex. Tubuhnya segera lenyap ditelan vortex, yang kian mengecil, dan akhirnya hilang.

Di suatu tempat, Rani menunjukkan kalung berbatu mata kucing hijau kepada ibunya. Sang ibu memandangi kalung itu, wajahnya tersungging senyum. "Sekarang kamu percaya kan, Nak? Ibu menghitung, saat bertemu tadi, ia pasti masih terlihat berusia 30 tahunan. Betul kan?"

"Iya, Bu. Apa saya bisa bertemu dia lagi ya, Bu?"

"Mungkin bisa. 20 tahun lagi dari sekarang," kata sang ibu, seraya meletakkan tangannya di kepala Rani. "Itulah alasan kenapa ayahmu tidak bisa berdiam di satu masa terlalu lama. Tugasnya adalah menjelajah waktu. Bersyukur kita masih diberi kesempatan bertemu. Yang jelas, dia menyayangimu. Selalu. Ingat itu, Nak.."

Sementara itu, di tahun 2022. Abdul terbangun di sebuah surau mesjid....

13 komentar:

Mochammad Nasrulloh mengatakan...

wah mantap....
sumpah banget sangat bagusnya
hua ijin pollow juga dah ya
salam kacrut dah

Nina Razad mengatakan...

@ naspard: Wekekeke.. Makasih Bro Nasrul. Makasih juga udah folback *halah* Eeeeh di twitter belum follow dikau niiiy.. *ke TKP*

Dunia Feby Andriawan mengatakan...

Wah bagus ceritanya, endingnya mantap.. Salam kenal yaw.. :)

Nina Razad mengatakan...

@ Feby: Terima kasih Mas Feby. Masa sih endingnya mantap. Kan nggantung... hehehehe.. :D

damz mengatakan...

Keren ceritanya Nin!
Si Abdul minum pil apa ya bisa awet muda begitu? :p

Mochammad Nasrulloh mengatakan...

udah udah udah, udah anak mama pollow cemua kok
kgk percaye cek twit aje

Nina Razad mengatakan...

@ Damz: Hahahaha.. Lain minum pil, ngan lulumpatan zaman. Cerita latar belakangnya tu dia aslinya memang time traveller, penjelajah waktu. Konon ada beberapa orang jadul yang bisa menjelajah waktu lewat "pintu alam jin". Ini daku bikin fiksinya aja. hehhee..

@ naspard: Sip sip siiip.. Trus tema sweet17 jadi gak? hehehe.. Belum liat twitter lagi nih hari ini.. :D

KuraKuraPutih mengatakan...

bagus bagus.. :D , suka dengan kalungnya .. #ehh

Srius mba ceritanya bagus, serasa gw ada di kereta lagi lihat bapak anak itu pelukan.. :)

Nina Razad mengatakan...

@ Kura-kura Ninja...eh, Putih: Hehehehe.. Terima kasih, yaa. Aku syeneeeng kalau temen2 suka sama ceritanya. Itu pake wawancara sama komuter lho (utk capture suasana kereta). Aku sendiri baru sekali naek KRL. Wekekekeke..

KuraKuraPutih mengatakan...

hahahah .. niat bener mba.. salutt .. ({}).. :)

Deesan mengatakan...

Wuihhhh Mbak Nina... kerennn euy... salam kenal ya Mbak hihihi...

Nina Razad mengatakan...

@ KKP: Ahahahaha.. Supaya ceritanya berasa lebih real, aku niatin wawancara orang yang memang ahlinya. Hehehe.. Bisa2nya penulis lah. Wakakakaka..

@ Deesan: Uniiiiiii!! Ke mana ajaaaaa... Ni, blog indosiar udah bener2 almarhum yaa? Uni Deesan bikin di blogspot aja, Ni, gampang diintegrasikan dengan account fb, google, dsb. *lho, kok aku ngiklan* :p

Deesan mengatakan...

Hihihi iya, yg di Indos udah lama ga diurus jadi berdebu. Hahaha aku udah punya blog di blogspot Mbak Nina. Udah bikin ID Twitter (lagi hihihi) sesuai petunjuk Mr. Tebeh. Tinggal ijin ama sepuhnya KacrutMenulis nih Mbak Nina hihihi.