Tampilkan postingan dengan label fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiction. Tampilkan semua postingan

2 Januari 2014

[CerpeNina] The Promise (1)


"Apa yang Mia pikirkan saat melakukannya? Bukankah semua itu adalah rahasia hidup Mia? Coba pikirkan jawabannya. Karena ada benang merahnya."

Mia tertegun membaca rangkaian kalimat yang tercetak di layar sentuh smartphone-nya. Kalimat yang diketik Gusti. Mia tak mengerti kenapa Gusti begitu penasaran dengan jawabannya. Ini adalah ketiga kalinya Gusti menanyakan hal serupa, baik lewat messenger maupun telepon.

"Iya sih itu rahasia Mia. Tapi entah apa yang Mi pikirkan. Mi hanya ingin membaginya kepada Kanda," balas Mia. Jawaban yang sama, setiap kali Gusti menanyakan hal tersebut. Ya, habisnya mau jawab apa lagi. Memang begitu adanya.

"Hemmm.. jadi spontan, tanpa rencana? Ya artinya Mia tulus. Dan itu juga artinya Mia memercayakan harga diri Mia kepada Kanda," tulis Gusti. Dan ia masih typing..

Mia tertegun lebih dalam. What? Kenapa reaksi Gusti malah begitu? Ini di luar dugaannya. Mia pernah berbagi rahasia gelap dengan 2-3 laki-laki lain sebelumnya, tapi tak satupun reaksi mereka seserius Gusti.

"Dan, bagi Kanda, menjaga harga diri Mia bukanlah hal main-main. Ini lebih berat daripada menjaga rahasia. Menjaga rahasia itu mudah, tapi menjaga harga diri... aduh, mak!"

"Maafkan Mia, Kanda.."

"Hehe.. Tidak perlu minta maaf, sayang. Kanda senang bahwa Mia begitu percaya pada Kanda. Malah Kanda yang bingung, apa yang Mia lihat dari Kanda, sampai percaya begitu," balas Gusti lagi.

"Mia pikir Kanda amanah. Sejak pertama melihat mata Kanda, Mia merasa seperti ditelanjangi. Tak ada yang bisa Mia sembunyikan dari Kanda. Termasuk perasaan Mia terhadap Kanda," jemari Mia lincah menekan layar sentuh. Mulutnya penuh senyum.

Mengaku suka sebenarnya tetap membuatnya tersipu, meski usia Mia tidak lagi bisa dibilang ABG. Dua-puluh-delapan, seharusnya sudah tak lagi sungkan mengakui perasaan. Tapi, tetap saja. Mia tergelak sendiri membaca balasan-balasan bernada canda selanjutnya dari Gusti.

Hatinya dipenuhi kehangatan. Perutnya terasa digelitik ribuan kupu-kupu yang beterbangan membebaskan diri dari kepompongnya masing-masing. Dada Mia terasa dialiri listrik bertegangan satu megawatt, tapi satu-satunya yang terbunuh adalah keraguannya.

"Mia, serius, apapun yang terjadi, Kanda tidak akan meninggalkan Mia. Apapun keadaannya, Kanda akan terus mendampingi langkah Mia. Itu janji Kanda. Dan, Kanda kalau sudah bilang A, sampai mati akan tetap A, ngga berubah menjadi B, apalagi C," kata Gusti tiba-tiba, membuat Mia semakin terpukau.

Rasa sukanya mendadak meledak menjadi kekaguman tak berbatas. Ledakan yang menghasilkan percikan bara cinta. Hawa panasnya mulai menghangatkan seluruh sel tubuh Mia, membangunkan rasa yang dikira Mia telah mati seiring luka dari kisah hidup sebelumnya.

"Ya Allah. Masya Allah, tahukah, Kanda sungguh indah. Padahal Mia pikir chivalry is dead. Kirain sikap ksatria sebagai true gentleman itu sudah mati. Kok bisa sih, Kanda?"

Gusti hanya membalas dengan ikon peluk, cium dan lovestruck.

Di kamarnya, Mia menghela nafas panjang. Jadi beginilah keadaannya. Allah yang Maha Baik akhirnya mengirimkan salah satu malaikat berbentuk manusia. Dan utusan-Nya itu berada di ujung sana, mengetik rangkaian kalimat tulus, mengucap janji, yang biasanya hanya diucapkan oleh seorang suami kepada istri tercinta. Fakta logis ini membuat Mia merinding bahagia. Sensasinya menyerupai puluhan kali letupan orgasme kecil, tak dibuat-buat, tak dikendalikan dan tak terhentikan.

Yaaa. Mia benar-benar jatuh cinta kepada Gusti.

(Bersambung..) ^_^

18 Oktober 2012

[Cerpen] Bulan di Atas Ranting

Cerita pendek berikut ini sudah cukup lama berada di kepala saya, tapi belum sempat juga saya tuliskan. Sempat "galau" memikirkan judulnya apa, karena memang saya paling blo'on kalau disuruh membuat judul tulisan. Kaget kan, ternyata seorang editor juga bisa kesulitan membuat judul. Hehehehe...

Tapi tadi pagi, saat saya menyambangi grup BBM "doefanbla$t", seorang kawan saya mengungkapkan kalimat "Bulan di Atas Ranting". Meski saya tidak menanyakan makna sebenarnya dari pepatah, saya langsung bisa menangkap artinya. Saya juga langsung terpikir, "Ini dia! Judul yang pas buat cerpen saya."

So, here it is. Selamat membaca... :)
====================================================================

7 branch holding the moon by rockpaperscissorsnclay.blogspot.com
Ranting kering "berbuah" bulan. (Image by: rockpaperscissorsnclay.blogspot.com)

Hana mempercepat langkahnya. Kakinya cekatan menuruni anak-anak tangga.

"Hey, mau ke mana, Han?" tegur Indra yang kebetulan berpapasan di tangga.

"Lagi ada perlu, Pak. Nanti saya balik lagi kok," jawab Hana seraya melambatkan langkah.

"Oke deh," Indra mengangguk-angguk. Sebetulnya ia tidak terlalu peduli Hana akan betulan kembali ke kantor atau tidak. Ia hanya iseng bertegur sapa.

Sesampai di area parkir, setengah berlari Hana menghampiri Mazda 2 hijaunya. Hamparan area parkir berlantai beton tampak begitu menyilaukan. Maklum, sinar matahari Senin sore itu masih terik. Gumpalan awan seakan lautan domba gemuk bergelantungan di langit. Udara yang berputar pelan terasa gerah, tapi Hana malah menggigil. Tak sabar rasanya ingin segera tiba di tempat tujuan.

Lima menit berikutnya, Hana sudah melajukan mobilnya di tol dalam kota. Kencang. Sesekali ia mengambil lajur kiri, melambatkan laju guna membalas pesan di Blackberry-nya.

"Kalau memang sibuk dan tidak sempat, ya tidak apa-apa. Tapi kalau sempat, saya akan senang sekali." Begitu tulisan di Blackberry Messenger Hana. Senyum kecil terbit di sudut bibirnya.

"Saya sudah di tol dalam kota lho. Sampai ketemu nanti, ya." ketik Hana cepat-cepat. Jempol kanan Hana cekatan mengetik di atas keyboard qwerty dakota putihnya itu.

Tak berapa lama, masuk lagi sebuah pesan. "Kira-kira berapa lama sampai di bandara? Saya tunggu di Kedai Anglo ya."

Hana kembali tersenyum. "Sekitar 35-40 menit. Oke nanti saya langsung ke TKP."

Sepanjang jalan, yang Hana pikirkan adalah percakapannya dengan Wishnu lewat Blackberry Messenger, semalam. Percakapan yang diawali dengan kalimat-kalimat formal, karena Wishnu adalah koleganya. Rangkaian kalimat dialog mereka berlanjut menjadi obrolan yang mengalir, hangat, bahkan terselip curhat, seakan mereka adalah kawan yang sudah akrab selama bertahun-tahun.

Ujung-ujungnya, hati Hana dan Wishnu saling klik dan tertaut, laksana anak kunci terputar ke arah yang tepat lalu menyenggol kaitan kunci. KLEK. Kaitan terlepas, pintu mulai terbuka lebar, tak lagi terkunci. Arus perasaan berlomba berdesakan keluar dari pintu yang terbuka. Rasa yang berwarna-warni. Senang, cemas, gembira, khawatir, berharap, optimis, pesimis. Pelangi hati.

Hanya saja, Hana masih takut mengartikan rasa itu sebagai jatuh cinta. Biarlah waktu yang menjawab. Begitu Hana berjanji pada dirinya sendiri.

"Yang jelas, saya tidak mau mengkhawatirkan hal-hal yang belum terjadi dan belum ada. Saya hanya ingin menikmati apa yang sedang saya rasakan saat ini dan sekarang. Ke depannya, adalah harapan. Tak lebih. Harapan yang memotivasi, memberi semangat hidup." Tulis Hana semalam, sebelum ia mengakhiri chatting mereka.

"Mantap. Saya setuju," balas Wishnu di ujung sana.

"Jadi, mari kita nikmati detik ini. Dan detik-detik berikutnya, selama takdir masih terasa bersahabat terhadap kita. :) " Tulis Hana lagi.

"Siapa takut?" jawab Wishnu.

Hari itu, Wishnu harus segera kembali ke Banda Aceh. Hana tahu itu, karena semalam mereka juga membahasnya. Lalu jika Hana menemui Wishnu di Bandara Soetta sebelum dia take off, itu bukanlah sesuatu yang sebelumnya direncanakan. Bahkan tadi pagi, Hana tidak berpikir untuk menyusulnya. Rampungnya tugas lebih cepat dari perkiraan, plus telepon dari Wishnu siang itulah yang membuatnya berubah pikiran.

Entah kenapa, Hana mendadak merasa harus bertemu Wishnu, meski hanya sebentar. Ia bahkan tak mengindahkan udara nan panas dan padatnya tol dalam kota menuju Bandara. Yang Hana pikirkan adalah mencapai Bandara secepat mungkin dan selamat. Sungguh, ia harus bertemu Wishnu.

Ketika akhirnya Mazda 2 hijau itu terparkir rapi di area parkir Bandara, hati Hana semakin mantap. Semantap langkahnya menuju Terminal 1A - Departure. Ia sempat bingung mencari Kedai Anglo seperti yang dikatakan Wishnu tadi.

Di mana... di mana... di manaaa.. Hana mulai bernyanyi dalam hati, menghibur diri sambil menetralisir rasa gembiranya agar tidak terlihat berlebihan. Mata kecilnya mencermati sekeliling. Sayang, ia tetap tidak menemukan nama kedai dimaksud. Sampai akhirnya ia melangkahkan kaki ke arah toilet, di balik tangga besar.

Ah, itu dia! Betul, itu dia kedainya! Hati Hana bersorak girang. Langkah kakinya panjang-panjang menghampiri kedai. Di pintu, Hana disapa oleh seorang greeter yang ramah. Hana balas tersenyum seraya mengatakan ia sudah ditunggu temannya di dalam. Kemudian, mata Hana mencari ke sekeliling ruangan.

Matanya segera bertumbuk dengan sepasang mata indah, yang sudah berhasil membuat Hana tertarik sejak awal ia membaca laporan dan resume Wishnu di salah satu berkas yang tertumpuk di desk-nya. Mata indah berbentuk biji pecan yang sejodoh dengan bibirnya. Mata cokelat dan bibirnya yang senantiasa menyunggingkan senyum tipis. Menggoda.

Hana pun terpana. Hatinya terpanah. Wishnu! 

Detik itu pula, bagi Hana, waktu terhenti. Membeku. Lagi-lagi Hana menggigil. Mati-matian ia berusaha menahan diri agar tidak berteriak atau tertawa kesenangan.

Setelah berhasil menguasai diri, ia melambaikan tangan yang dibalas dengan lambaian tangan oleh Wishnu. Hana melangkah ringan memasuki ruangan, menghampiri pojok ruangan, tempat Wishnu menunggu.

Mereka berjabat tangan, saling melemparkan sapaan hangat, lalu duduk bersebelahan di sofa panjang itu. Lucunya, tangan mereka tidak terlepas, malah saling menggenggam.

"I can't believe you are actually here," desis Wishnu, tertawa kecil, lalu menatap Hana lekat-lekat.

"I can't believe it myself!" jawab Hana, tersenyum geli, sambil terus membalas tatapan Wishnu. Ia nyaris merasa terhipnotis.

Mata Wishnu begitu dalam. Nyaris segaris. Misterius. Hana suka. Suka sekali. Mata yang teduh. Tatapan cerdas dan ramah menenangkan. Hana sangat suka. Hana jatuh cinta. Ya, jatuh cinta. Tampaknya Wishnu pun merasakan hal serupa. Buktinya, mereka duduk begitu dekat. Nyaris berpangkuan, saking lekatnya.

Hana merentangkan lengan kanannya ke bawah ketiak Wishnu, merangkulnya hangat, lalu membelai lembut punggungnya. Tubuh Wishnu hangat. Sangat hangat. Atletis. Padat dan liat. Tapi yang jelas, tubuh ini hangat. Sehangat karakter Wishnu. Sehangat tatapannya.

Tidak banyak kata yang terucap di antara mereka. Hanya saling menatap. Saling tersenyum. Wishnu berkali-kali mencubit dirinya, merasa tak percaya bahwa Hana ada di hadapannya.

"Ini bukan mimpi kan? Ini nyata kan?" ujarnya berulang kali.

"Ini nyata, sayang. Sangat nyata. Begitu juga perasaan saya. Semua yang saya tulis dan kita sharing sejak beberapa malam terakhir, adalah nyata," kata Hana, setengah berbisik di telinga Wishnu.

Sinar mata Wishnu begitu bahagia. Sunggingan senyumnya begitu penuh arti, membuat Hana semakin terperosok jatuh ke dalam pelukan kubangan cinta yang terhampar di depannya. Dalam hati, Hana berseru, 'Ini dia, laki-laki yang mengerti saya. Mengerti pekerjaan saya. Mengerti hati saya!'  Seruan yang sama rupanya juga bergema, memenuhi ruang jantung Wishnu, mengiringi debaran dan detaknya.

"Betulan, kamu masih lajang? Laki-laki setampan kamu, masih lajang. Saya agak sulit mempercayainya," ceplos Hana.

"Jujur, banyak yang mau sama saya. Tapi, saya tidak sreg. Belum bertemu yang cocok," jawab Wishnu.

"Apa mungkin kamu terlalu banyak memilih?"

"Yaa, mungkin juga sih. Buat saya, pernikahan hanya satu kali seumur hidup, jadi pasangan saya haruslah yang sempurna dan memenuhi ekspektasi saya, supaya saya bahagia. Makanya, sampai sekarang saya masih melajang. Masih mencari. Sampai sekarang," jawab Wishnu.

"Apa saya memenuhi ekspektasimu?" tanya Hana, menggoda.

"Sangat," Wishnu tertawa. "Terus terang, sangat. Saya juga heran, kenapa saya bisa langsung merasa cocok, padahal kita baru bertemu. Tapi sekali kita berbincang, semuanya mengalir. Saya selalu mencari wanita yang bisa mengerti saya. Wanita berjilbab yang cerdas, nyambung dengan saya dan mengerti beban pekerjaan saya. Jika dia cantik, itu adalah keberuntungan saya."

Lalu Wishnu kembali menatap Hana lekat-lekat. "Dan, kamu punya semua itu," cetus Wishnu, membuat Hana tersipu dengan wajah merah merona.

"Jangan bikin saya ge-er, ah.." Hana mencubit mesra lengan Wishnu.

"Beneran kok," Wishnu tertawa.

Sisanya, mereka hanya saling menatap. Hanya sesekali berbicara. Tangan mereka saling menggenggam. Saling mengusap. Saling menyentuh sopan.

Ketika waktunya untuk boarding tiba, Wishnu tampak begitu berat melepas Hana. "Datanglah ke Banda Aceh. Terbanglah kunjungi saya. Jika saya bisa, sayapun akan ke Jakarta. Jangan lama-lama berpisahnya. Janji ya?" desah Wishnu, manja. Namun, suaranya bergetar, menahan air mata. Hana mengangguk.

"Janji?" Wishnu mengulangi. Hana mengangguk dengan kepala dan matanya.

That's it! Laki-laki dewasa di hadapannya ini begitu menggemaskan, Hana tidak ingin lagi menahan diri. Ia membelai rambut Wishnu dan merasa takjub, halus sekali rambut lurusnya itu. Kemudian, Hana mencium pipi Wishnu. Wajah lembut laki-laki itu memerah. Tersipu.

Ya Tuhan, Hana suka sekali. Sangat suka!

Sekali lagi Hana mengecup pipi kanan Wishnu. Agak lama kali ini. Wishnu tidak menolak. Ia hanya tersenyum sambil mempererat genggaman tangannya terhadap jemari Hana. Mereka semakin lekat saling tatap.

Wishnu terlihat ingin sekali membalas ciuman Hana, tapi ia malu. Takut Hana marah, mungkin. Hana memahami tatapan itu. Tangan kanan Hana membelai pipi kiri Wishnu, lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Wishnu. Mengecupnya lembut. Hana merasakan Wishnu membalas kecupan itu. Tiga detik yang manis. Sangat manis, Hana bisa merasakannya sampai ke tenggorokan.

"I love you," bisik Hana, membuat Wishnu tertegun sekaligus tampak bahagia.

"I love you too," balas Wishnu, "Saya sangat ingin mencium kamu, tapi malu, banyak orang di kedai ini."

Hana tertawa. Ia sampai lupa bahwa mereka ada di tempat umum. Hana hanya menganggukkan kepala. "Akan ada waktunya. Bersabar ya, sayang," ujar Hana lembut sambil menggenggam erat jemari Wishnu.

Lalu Hana mengantarkan Wishnu ke pintu departure. Berkali-kali Wishnu melemparkan pandangan, mencari Hana. Ia tampak senang menemukan Hana menunggunya dan memperhatikannya sampai selesai. Hana dengan sabar memandangi Wishnu melintasi metal detector. Akhirnya, mereka saling melambaikan tangan dan tubuh Wishnu menghilang di balik partisi Bandara.

Hana balik kanan, melangkah kembali ke area parkir. Pikirannya berkecamuk. Ya Tuhan, ia jatuh cinta. Benarkah ini? Nyatakah ini? Cintakah ini? Kenapa baru sekarang? Kenapa sekarang? Apakah karena ia sedang merasa lemah? Apakah karena ia sedang lengah? Kenapa ia jatuh cinta pada Wishnu justru di tengah prahara jalan hidupnya.

Ketika akhirnya Hana masuk ke dalam mobil, ia berharap perasaannya ini tak akan membebani siapapun, terutama Wishnu. Ia tak ingin menyakiti siapapun, termasuk dirinya sendiri. Sungguh besar harapan Hana bahwa perasaannya terhadap Wishnu tidak menjadi bulan di atas ranting. Sebuah perasaan yang sangat indah, tapi sarat ilusi.

Usai men-starter mobil, jemari Hana membuka bagian asbak mobil. Ia mengeluarkan cincin emas belah rotan yang tergeletak di dalam asbak bersih itu. Sambil merapatkan bibir dan menghela nafas panjang menahan lara, ia kembali menyematkan cincin itu ke jari manis di tangan kanannya.

* * *
===================================================================
@ copyright firstavina, Oktober 2012

8 Agustus 2012

[Cerpen] Agni dan Agni, Pt.2

Agni terkesiap. Kepalanya refleks menoleh ke suatu arah, hanya saja matanya tidak mengerti apa yang harus ditemukan untuk dilihat. Alis tebalnya mendadak bertaut.

"Kenapa, Ni?" tanya Diana.

"Nggak tau. Rasanya kayak ada yang ngeliatin," jawab Agni, setelah membisu selama delapan detik.

"Hiii.. Loe pake merinding-merinding nggak?" timpal Krista. Rupanya ia menguping.

"Nggak sih.." tanpa sadar tangan Agni mengusap lehernya.

"Nggak merinding kok pegang leher?" kejar Krista.

"Ini gue sambil ngerasa-rasain, merinding nggak sih. Tapi enggak ah," Agni menegaskan.

"Ooo.. Kirain. Aneh aja kalo siang-siang panas begini loe merinding. Angin aja ngga ada," Diana bersungut, sambil mengipas-ngipaskan buku catatan kecilnya.

"Konpers jam berapa sih? Lama amat," Agni mengalihkan pembicaraan.

"Seharusnya sih jam satu. Tapi ngga ada tanda-tanda bakal konpers gini sih. Mencurigakan," ketus Krista, seraya melirik jam tangannya. Sudah pukul 14.10 WIB.

"Biasalah, para petinggi itu kudu setting statement dulu, biar jawabannya pada kompak. Nggak anehlah kalau statement mereka normatif-normatif aja," sahut Diana.

"Laper nih gue," Agni meringis.

"Samaaa.. Tadi gue bela-belain nggak makan dulu abis sholat tadi, karena takut keburu konpers. Ngga taunya sampe jam segini malah belum keliatan penampakan Pak Kadiv Humas. Gimana sih.." Diana mengetuk-ngetuk pulpennya di atas notepad-nya. Agak tak sabar.

"Kita ngopi aja dulu yuk di warung Emak," ajak Agni, sambil menunjuk warung kecil di sudut, tak jauh dari tempat mereka menunggu narasumber.

"Ayo deh, kita juga ikut," timpal Johanes dan Arya, "Laper juga gue."

"Gue stay di sini deh. Gue kan tadi udah makan mi ayam di warung belakang," kata Krista.

"Ya udah, loe stand by di sini. Nanti kalau beneran ada konpers, telepon gue ya," Agni berdiri. Tangannya menepuk-nepuk bagian belakang celana panjangnya, membersihkan kerikil yang mungkin terduduki di tangga ini. Krista mengacungkan jempol, tanda mengiyakan.

Lalu Diana dan Agni menyusul Johanes dan Arya yang sudah duluan ke warung Emak.

"Dien, beberapa minggu terakhir ini gue ngerasa ada yang merhatiin gue terus deh. Siapa ya?" Agni membuka pembicaraan.

"Eh.. Siapa hayoo? Ada yang naksir elo kali?" Diana nyengir. Menggoda.

"Nggak mungkin lah.." Agni tertawa.

"Kenapa nggak mungkin?"

"Ya nggak mungkin aja. Gue udah ketuaan untuk dikecengin orang," Agni menghabiskan tawanya di ujung bibir.

"Elo ngga tua kali, Ni. Baru 27 kan loe? Masih cakep kok. Cakep!" jemari Diana membentuk gestur kotak, seakan sedang membidik foto. Agni tergelak sambil mencoba menepis tangan sahabatnya itu.

"By the way, anyway, busway, gue kok mendadak keingetan kawan lama gue ya.." lanjut Agni, setelah derai tawanya usai.

"Kawan lama loe? Kawan apa kawan?" Diana menyelidik.

"Kawan kok," Agni nyengir ceria. "Ya, dulu gue pernah suka juga sih sama dia," ia melanjutkan.

"Trus kalian jadian?"

"Boro-boro lah. Kita waktu itu masih bocah. Gue dan dia sama-sama masih SD-SMP kali tuh, Dien," Agni tergelak.

"Eh, jangan salah, anak SD dan SMP zaman sekarang udah banyak yang jadian dan pacar-pacaran lho," Diana membantah.

"Yee itu kan sekarang. Dulu, di zaman kita, mana ada anak SD yang begitu? Paling suka-sukaan aja, ngga sampe jadian apalagi pacaran. Waktu SMP aja gue ngga pake pacar-pacaran tuh," Agni manyun.

"Loe dulu jelek kali ya?" Diana terbahak. Agni ikut terbahak, "Sialan loe.."

"Iya juga sih, gue dulu jelek. Item, kucel," kata Agni.

"Sekarang juga masih sih," kembali Diana menggoda.

"Yeeey tadi loe bilang gue cakep, sekarang dibilang masih jelek. Gimana sih loe, nggak konsisten?" Agni mencubit pelan lengan Diana. Yang dicubit tertawa makin keras.

"Iya, iya, ampun. Trus gimana soal kawan loe itu?"

"Hmm.. Ya gue kenal dia sejak SD. Gue jadi deket sama dia gara-gara nama kita sama," jawab Agni.

"Sama gimana?"

" Ya sama. Nama dia dan nama gue sama-sama Agni."

"Lho kok bisa?" Diana serius terheran-heran.

"Itu juga yang jadi pertanyaan gue dulu. Dia cuma bilang kalau nama dia artinya api atau orang yang ditakuti. Sedangkan nama gue artinya suci. Gitu. Nah, gara-gara itu gue jadi deket sama dia. Trus makin deket setelah kita SMP," Agni menjelaskan.

"Trus dianya suka sama elo juga ngga?"

"Hmm.. Itu yang gue ngga tau. Jujur aja gue ngga pede. Dia tu cowok populer. Ganteng, jangkung, gentleman. Hampir seluruh cewek di sekolah naksir dia. Cuma gue aja yang nggak," kata Agni.

"Bohong loe!"

"Hehehe.. Maksudnya, cuma gue aja yang nggak keliatan naksir dia. Gue tutupi lah. Gengsi tau."

"Yaelah, anak bocah udah kenal gengsi. Nah trus, trus?" Diana penasaran.

"Ya, gue berusaha keras untuk nggak ketahuan bahwa gue suka sama dia. Gue ngga mau dicap sebagai salah satu cewek yang suka juga sama dia. Gue musti beda dong, Dien. Makanya gue tetep mempertahankan status sahabat dengan dia waktu itu," tutur Agni.

Diana menggeleng-gelengkan kepalanya, "Bodoh ya elo."

"Iyaaaa.. Gue bodoh..." Agni pura-pura menangis di bahu Diana. Tangan Diana berpura-pura menepuk-nepuk punggung Agni. Kemudian mereka nyengir kuda.

"Tapi asli, gue nyesel. Kenapa gue ngga nyatain aja waktu itu ya. Kenapa nggak jadian aja ya gue ama dia. Biarin deh ngerusak persahabatan, yang penting gue bisa jadian ama dia gitu. Hiks.. Eh, tapi gue juga waktu itu takut sih. Takut dia ngga suka sama gue."

"Elo kebanyakan mikirnya deh. Padahal mah tembak, tembak aja. Soal ditolak atau nggak, itu kan urusan belakangan," Diana bersungut.

"Itu dia.. Dulu gue pemalu."

"Jiaaah, bohong banget!"

"Hahahaha.. Ketahuan bohongnya ya gue?" Agni menjulurkan lidahnya. "Ya waktu itu pokoknya gue nggak tau deh dia suka ama gue apa nggak. Tapi harusnya sih gue nekat aja ya dulu tuh?"

"Nah, itu pinter. Kok telat pinternya?" Diana meledek.

"Iya. Hiks.."

"Trus, cari aja sekarang orangnya."

"Maunya begitu. Tapi gue udah lost contact sama dia sejak gue pindah sekolah ke Bali," Agni manyun lagi.

"Rumahnya loe tau?"

"Tau lah, dulu dia tetangga gue."

"Datengin! Gampang kan? Bukannya sebagai wartawan kita udah diajarin nyari alamat sampe dapet?" Diana nyengir.

"Iya sih. Tapi gue takut ah. Takut CLBK," Agni merapatkan bibirnya.

"Emangnya kenapa kalau CLBK? Kalau ternyata dia suka juga dan masih suka sama loe, kan bagus tuh?"

"Bagus sih. Tapi, ngga tau kenapa gue takut. Takut mendengar jawabannya."

"Elo tuh ya, takut amat sih sama hal yang belum terjadi. Hajar ajaaa.."

"Masalahnya ini masalah hati, Dien. Gimana dong. Elo deh yang cari dia sekarang di mana," Agni melirik manja.

"Najis, ogah bener. Nambah-nambahin kerjaan gue aja. Gak!" Diana mengomel. Agni terbahak-bahak. Derai tawa mereka masih berlanjut sampai tiba di warung Emak.

Dalam hati, Agni benar-benar merindukan Agni. Ya. Ia sangat merindukan Agni laki-laki, yang sebenarnya baru saja pergi dari warung Emak setengah jam sebelumnya.


Bersambung nggak ya? :)

6 Agustus 2012

[Spoiler - Cerpen] Agni dan Agni

inspired by http://emmascrivener.net/wp-content/uploads/2012/03
Agni!

Jantung Agni berdegup kencang memandang wajah cantik itu dari kejauhan. Ya, tak salah lagi. Itu Agni. Perempuan bernama sama, yang ia kenal sejak sekolah dasar. Dulu, nama serupa itu membuat Agni-perempuan dan Agni-laki-laki--dirinya--menjadi bahan ledekan seantero sekolah. Ada yang meledeki mereka kembar. Ada pula yang meledek jodoh. 

Jodoh. Satu kata yang asing di telinga Agni saat itu. Betapa tidak, mereka hanyalah bocah berusia 10 tahun, ketika takdir mempertemukan. Agni-perempuan adalah murid pindahan. Kulitnya hitam manis, rambutnya lurus sebahu, bibirnya tipis keunguan dan matanya syahdu. Kedua bola mata syahdu itu membelalak indah ketika Agni mengetahui, ada seorang bocah laki-laki bernama sama dengan dirinya.

"Kok bisa ya?" seru Agni-perempuan kecil kala itu. 

"Gue juga nggak tau deh," jawab Agni-laki-laki ingusan sambil berlalu. Dari sudut matanya, Agni-laki-laki menyadari bahwa Agni-perempuan penasaran.

Singkat cerita, mereka menjadi sahabat. Pergi dan pulang sekolah bersama, karena kok ya kebetulannya mereka bertetangga. Hanya beda tiga rumah. 

Seiring waktu, Agni-perempuan tumbuh menjadi gadis rupawan. Tomboy, lepas dan meriah. Sementara dirinya, Agni-laki-laki, menjadi pribadi pendiam, sensitif dan tenang. Kontras, seperti langit dan bumi. Kontras, tapi, entah bagaimana, saling membutuhkan. Tanpa langit, bumi tak terlindungi. Tanpa bumi, langit hanya angkasa sepi tak berbatas. 

"Agni, apa loe pernah berpikir, kenapa nama kita bisa sama, padahal gender kita berbeda?" tanya Agni-perempuan suatu hari. 

Agni-laki-laki cuma tersenyum. Beberapa tahun sebelumnya, ia pernah bertanya hal serupa kepada orangtuanya. "Kata nyokap gue sih, nama gue, Agni, diambil dari bahasa Islandia, yang artinya orang yang ditakuti. Sekaligus dari bahasa Sansekerta, yang artinya api," jawab Agni-laki-laki.

Bibir Agni-perempuan segera berbentuk O, tanpa suara. "Kalau nyokap gue bilang, nama Agni itu artinya suci, dalam bahasa Yunani," kata Agni-perempuan. "Tapi kok bisa ya, nama yang sama digunakan untuk cowok dan cewek?" kicaunya lagi.

"Ya bisa aja kali. Nama Dian juga bisa dipakai sama cowok dan cewek kan? Andi juga. Audi juga. Hmm.. Apa lagi ya.."

"Ah, iya ya," Agni-perempuan tertawa terbahak. Agni-laki-laki, dirinya, hanya tersenyum bijak. Sungguh cantik dan enerjik Agni remaja. Tanpa sadar, Agni-laki-laki mulai merasa jatuh cinta. 

Namun, ia ragu mengartikan kedekatan Agni-perempuan terhadap dirinya. Apakah hanya karena nama yang sama, atau memang Agni-perempuan tertarik kepadanya. Ia jadi merasa tak percaya diri setiap kali berada di hadapan Agni-perempuan. 

Padahal, jika berada di tengah siswa lain, terutama gadis-gadis ABG, Agni adalah cowok populer. Ia tampan. Posturnya menjulang dan kakinya jenjang. Kulitnya terang dan mata yang agak sipit memperjelas garis keturunan Jepang yang mengaliri darahnya. Agni juga ramah, santun dan selalu siap membantu siapapun. Apalagi terhadap perempuan. Ibunya selalu mengajari dia agar menghormati perempuan. Perempuan adalah amanah, begitu pesan sang ibu kepadanya. Jadilah, Agni disukai--bahkan digilai--para gadis-gadis di sekolahnya.Tak ayal, para bocah laki-laki di sekolah terpecah dua. Sebagian menghormatinya, sebagian lain membencinya.

Hanya di hadapan Agni-perempuan, dirinya merasa lemah. Merasa tak percaya diri. Merasa takluk. Merasa tertolak. Tapi, tetap saja, ia terpesona. 

'Ah, sudahlah,' Agni menggelengkan kepalanya, seakan ingin menepis benaknya dari ingatan hangat tersebut.

Tapi, apa yang Agni lakukan di sini? 

"Ngeliatin apa, Bro?" tegur Samuel. 

"Hmm? Nggak. Hanya memperhatikan mereka," jawab Agni. Kalem. Sam mengikuti arah mata Agni. 

Lantas San tersenyum sambil mendengus pelan, "Mereka wartawan. Jangan sampai ngeh ada kita di sini."

Agni mengerjapkan mata, menyanggupi. 'Hmm.. Wartawan? Sejak kapan Agni jadi wartawan? Ya, memang pantas sih dengan sifat supelnya,' desis Agni dalam hati. 

"Kalau diperhatikan, yang itu cantik-cantik ya," ujar Sam, sambil menunjuk beberapa wartawati. Salah satu yang ditunjuknya adalah Agni-perempuan. Jantung Agni mendadak berhenti. Tapi ia sudah terlatih untuk menyembunyikan emosinya. 

"Jarang-jarang lho ada wartawan kriminal cantik. Sayang, kita nggak bisa mendekati, apalagi mengencani mereka. Bahaya, Bro. Bahaya," Sam terkekeh, memperlihatkan barisan gigi yang sudah tidak utuh. Salah satu gigi seri Sam pecah saat ia menerima pukulan seorang anggota geng kartel, demi melindungi Agni. 

Senyum tipis. Cuma itu yang bisa Agni tunjukkan kepada Sam yang dihormatinya. Sam tidak tahu, betapa dadanya bergemuruh. Mendadak, perasaan yang sudah lama tertidur, meletup. Ia sungguh merindukan perempuan bernama Agni, yang kini berada 100 meter di seberangnya. Agni yang sedang berceloteh dengan kawan-kawannya. Sesekali tertawa terbahak. Tawa yang sama sejak dulu. 

Agni menghela nafas berat. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menghalau aliran perasaan dari hatinya yang terdalam. Ternyata ia masih mencintainya. Masih mencintai Agni, setelah belasan tahun terpisah. 

Entah apa Agni menyadari kehadiran dirinya atau tidak. Sungguh ingin ia menunjukkan diri di depan Agni. Ingin melihat reaksi Agni. Apakah perempuan itu akan terkejut? Atau marah? Atau malah memeluknya? Pertanyaan-pertanyaan yang menyiksa, tapi harus ditahannya mati-matian, demi keselamatan Agni sendiri.

"Bro.." Sam menepuk pundaknya. Agni menatap laki-laki yang usianya 10 tahun lebih senior itu. "Demi kebaikan dia, lepaskan," ujar Sam. Agni tidak terkejut bahwa Sam juga menyadari deburan jantungnya. Sam pasti mengenali sinar matanya. Sinar mata kerinduan. Rindu kembali kepada kehidupan normal. Rindu kembali mencintai dan dicintai. Rindu yang harus ditahannya demi tugas. 

"Suatu hari, Bro. Suatu hari.." Sam berlalu. Artinya Agni harus mengekornya. Menjauhi kerumunan para kuli tinta.

Sekilas, ia kembali menoleh. Setengah berharap Agni-perempuan menangkap sosoknya. Kemudian, matanya menangkap cincin melingkar di jari manis kanan Agni. 'Ah, dia sudah menikah,' Agni mengatur nafas. Sakit. Sakit sekali rasanya. Namun, ia tak berdaya. 'Tak apalah. Semoga dia bahagia. Yang penting, dia aman..'

Agni menghilang di balik rimbunnya hutan beton, menuju ke markasnya.

Bersambung?

16 Februari 2012

[TheKacrutTheme] Surat untuk Jo


Sebenernya saya nulis cerita ini sudah lama sekali. Sekitar tahun 2004. Berhubung kemarin kamerads saya The Kacruters membuat tantangan #TheKacrutMenulis dengan tema baru--dan kebetulan temanya adalah SURAT"--saya pikir...nah, cerpen ini sajalah yang saya tampilkan lagi. Diperbaharui sedikit. Yang penting muatan filosofinya nggak hilang. Hehehe.. Intinya, saya ngga cheat kan? Hahahaha..

Selamat membaca..



Dear Jo,

Apa kabar? Semoga semua baik-baik dan lancar ya! Bagaimana sakitmu itu? Harus operasi kah? Semoga kamu cepat sehat lagi ya, Jo! Aku selalu mendoakan kebahagiaanmu..

Jo, aku dengar sekarang kamu berubah jadi pemurung lagi? Berubah, dong. Jangan begitu! Kamu hanya membuat keluargamu kuatir. Aku juga kuatir lho.. Juga membuatku merasa bersalah. Aku tahu aku salah, tapi kamu pun ada andil, penyebab semua ini. Kupikir, sudahlah, tinggalkan sifat mencari-cari, menerka-nerka, kesalahan siapa ini. Karena tidak akan ada habisnya!

Jo, kita belum mati. Dan syukurlah kiamat belum datang, masa depan masih selalu ada. Dunia akan baru benar-benar berakhir ketika Tuhan mencabut cinta kasih-Nya! Jadi kamu tidak akan apa-apa ketika Tuhan mencabut cinta kasihku terhadapmu. Aku yakin kamu cukup dewasa untuk mengerti ini semua.

Oke lah, tidak apa-apa untuk beberapa saat kamu akan begini. Penuh kemarahan. Kebencian. Aku pernah mengalaminya. Tapi cobalah untuk tidak membuat orang-orang yang mengasihimu kuatir.

Aku maklum kalau keluargamu membenci aku karena aku membatalkan pertunangan kita. Mereka pasti berpikir aku hanya mempermainkanmu. Aku maklum. Aku hanya bisa berbesar hati. Mereka "hanya" tidak tahu apa alasan sebenarnya. Jadi mereka membuat asumsi sendiri-sendiri.

Lagipula aku juga tidak perlu menjelaskan semua alasanku pada seluruh dunia kan? Untukku, itu tidak masalah. C'est la vie! Inilah hidup! Tidak selalu mulus. Dalam perjalanan hidup ini akan selalu ada pro dan kontra terhadap kita.

Aku hanya mencoba menjalani hidup sebaik-baiknya. Memilih jalanku dengan baik agar masa depanku tidak malah membunuhku (baik secara lahir maupun batin).

Dalam perjalanan hidup, kadang aku juga harus membuat keputusan yang tidak aku sukai, tapi itulah yang kuyakini terbaik untukku. Aku hanya percaya bahwa apapun takdir yang Tuhan berikan padaku—meski awalnya terasa menyakitkan—tapi selalu terbukti, rencana Tuhan adalah yang terbaik untukku. Syukurlah manusia dikaruniai ingatan yang paling buruk di dunia. Jadi semua kejadian lalu yang menyakitkan dalam hidup, perlahan akan kita lupakan dan kelak hati kita akan sembuh lagi. Aku percaya itu. 'Been there, done that!

Aku sudah berkali-kali berkata, aku tidak tahu masa depan itu seperti apa? Makanya, saat aku memutuskan kita kembali berteman saja, itu tanpa bermaksud takabur sama sekali. Ingat lho, takabur tidak hanya ada dalam ucapan yang "tinggi", tapi bisa juga dari ucapan yang merendah! Jadi apapun ucapanku, semoga itu jauh dari ketakaburan. Aku tidak ingin mendahului ketentuan Tuhan.

Aku tidak menutup segala kemungkinan. Hanya saja aku harus jujur, ketika kamu datang lagi padaku dan mengatakan kamu masih mencintaiku, aku jadi gugup! Apalagi kamu "menuntut" aku untuk mengucapkan kata-kata yang sama. Aku bingung! Karena seperti yang kamu tahu Jo, aku tidak akan mengucap apapun yang bertentangan dengan lubuk hatiku. Meski itu white-lies sekalipun. Aku telah belajar bahwa kebohongan (bahkan white lies) tidak diperlukan dalam suatu hubungan! Aku sendiri terkejut bahwa aku tidak bisa membalas ucapanmu. Seakan-akan hatiku ini sudah membatu!

Jo, aku pernah bilang kan, kalau aku tidak bisa lagi menerima kekecewaan? Saat kamu mengecewakan aku (lagi), hatiku membuat pertahanan yang begitu kuatnya hingga ia melepaskan diri dari kasih sayang yang kamu tawarkan. Aku yakin pada kedewasaan hatiku dan kematangan pemikiranku. Tidak akan pernah lagi aku membuat keputusan yang kelak aku sesali! Saat aku memutuskan hubungan kita, aku tahu, aku tidak akan menyesalinya! Sesakit apapun akibatnya, aku yakin mampu melewati itu semua, cepat atau lambat.

Hidup terus berjalan dan aku tidak akan berhenti melangkah meskipun badai kehidupan memukulku kuat-kuat. Merasa gagal, sedih dan frustrasi, itu manusiawi. Yang penting aku tidak berhenti. Tidak boleh berhenti! Kalau aku terpuruk, aku akan berdiri lagi. Aku yakin, sifat seperti itulah yang Tuhan inginkan dari seorang manusia. Menjadi yang terbaik dan mampu memimpin. Minimal untuk dirinya sendiri, sebelum memimpin orang lain.

Terbayang tidak olehmu, mengapa Tuhan memilih kita untuk terlahir dan menjalani hidup di dunia fana ini? Mulai kita masih seukuran mikro dari setitik sperma, bersaing dengan milyaran saudara kita yang lain menuju ovum ibunda tercinta. Tapi kitalah yang menang menembus sel telur dan menjadi embrio, cikal bakal manusia. Tidak selesai di situ, kita terus berjuang untuk hidup dalam ruang berlapis tiga yang gelap namun hangat. Bertahan dari segala benturan. Saat lahir, kita lagi-lagi berjuang untuk bisa keluar dari rahim ibu.

Dengan bantuan nyawa ibu kita pulalah kita terlahir.

Bukankah ini artinya kelak dalam hidup, orang lainpun akan rela berkorban untuk kita agar kita selamat. Sudah selayaknya jugalah kita rela berkorban untuk orang lain yang kita sayangi, agar mereka selamat. Begitulah, Jo, segala makna hidup adalah perjuangan dan bertahan. Janganlah kamu mati saat kamu hidup!

Dan jangan lupa, kamu lelaki. Tuhan memberi otoritas untuk lelaki, yaitu "kekuasaan dan menguasai". Lelakilah yang selalu terpilih untuk memimpin dunia! Suka tidak suka, aku harus mengakuinya! (Hehe..) Perempuan? Tentunya bukan hanya sebagai perhiasan dunia! Perempuan dirupa begitu elok dan indah agar pasangan hidupnya merasa nyaman bersama dia. Secara fisik perempuan lemah, tapi secara mental, jangan ditanya! Perempuan lebih kuat dari lelaki. (Hayo ngaku!)

Survai membuktikan (hehe..) dibalik kekuatan lelaki hebat, ada perempuan bijak yang mengelolanya.  Perempuan tidak diciptakan untuk menguasai, melainkan untuk meredam ego! Perempuan tidak diciptakan untuk memimpin dunia, melainkan untuk "memimpin" pemimpin dunia, dengan cinta!

Sayangnya, cintaku tidak cukup untuk membuatmu menjadi lelaki hebat. Maafkan aku!

Jo, aku percaya pada the chemistry between a man and a woman. Kalau tidak nge-klik, cinta tidak akan tumbuh. Jujur, aku sudah coba untuk bisa mencintaimu. Tapi kelihatannya hatiku tidak mampu menumbuhkannya untukmu, Jo.

Betul, aku memang sayang padamu, sejak awal aku sayang. Namun sayang bukanlah cinta. Setidaknya, untukku itu adalah dua hal yang berbeda. Mirip, tapi tidak identik.

Mungkin aku bodoh ya? Orang sebaik kamu, kenapa aku tidak bisa mencintaimu? Mungkin sekitarmu akan mengatai aku ini bodoh sekali sudah menyia-nyiakan kamu. Namun sungguh, aku tidak bisa bohong! Mungkin aku memang tidak tercipta untukmu, Jo.

Kalau aku memang mencintaimu, seharusnya kekecewaan semacam itu tidak menghalangiku untuk tetap menerima kamu apa adanya. Seharusnya, semakin aku cinta, semakin besar pula toleransiku terhadapnya. Tapi kita sudah lihat kan, kenyataannya? Kamu tahu sendiri.

Sebenarnya aku menerima kamu apa adanya, hanya saja tidak untuk sebagai pasangan hidupku! Kamu boleh mengatakan bahwa aku ini perempuan yang terlalu kaku atau konservatif. Silakan. Yang jelas, aku hanya mengikuti insting dan nuraniku. Aku memerlukan lelaki yang kuat secara mental, juga fisik. Karena, seperti yang kamu tahu, kadang aku merasa down. Batinku melemah. Hey, aku bukan perempuan lemah. Tapi, kuakui bahwa sesekali aku akan lemah, dan itu manusiawi kan? Tidak mungkin seseorang itu akan selalu kuat atau selalu lemah.

Momen seperti itulah, aku memerlukan dukungan seseorang yang bisa kuandalkan. Bukan seseorang yang malah ikut-ikutan merasa down hanya untuk mencoba memahami perasaanku. Kamu keliru, Jo! Yang kuperlukan adalah lelaki yang lebih tegar. Karena aku pun akan tegar untuknya! Aku tahu bahwa kamu sudah coba untuk berubah, seperti yang aku harapkan, namun tetap terasa janggal. Aku tidak bisa, Jo.

Aku tidak ingin menjalani hubungan karena aku merasa kasihan. Hal itu sudah lewat untukku. Sudah basi! Aku tidak lagi dalam tahap mencoba bertahan hanya karena kasihan dan berpikir cinta akan tumbuh dari situ. Telah belasan kali aku membuktikan, cinta tidak akan tumbuh karena rasa iba. Tidak akan!
Betul, cinta akan tumbuh karena simpati. Tapi, jangan lupa simpati berbeda dengan kasihan. Lagipula kamu tidak akan sudi kalau aku mengasihanimu, bukan?

That's it, Jo. I've spilled everything out. Semoga kamu bisa mengerti.

Aku mendoakan kebahagiaanmu. Aku berterima kasih kamu juga telah mendoakan aku. Kalau tidak, aku tidak mungkin merasa bahagia dengan Fadel dan anak-anaknya sekarang. Terima kasih, Jo. You'll always be my best friend!

Hugs,
xoxox

* * *

"Petugas Identifikasi dari Satuan Polres setempat menemukan surat di atas, dalam genggaman tangan Johansyah (31), korban tewas tabrak lari di Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur, tadi malam. Johansyah adalah seorang aktor yang tengah naik daun. Kepergiannya yang mendadak mengejutkan banyak pihak..."

Mira terhenyak mendengar berita tersebut dari sebuah tayangan infotainment produksi stasiun televisi swasta. Ia memandang ngeri bumper mobilnya yang penyok akibat menabrak seorang pemabuk di Jalan Dewi Sartika.

Jangan-jangan, tadi malam itu...

14 November 2011

[TheKacrutTheme] Time Travelling - Cerpen

Untuk seorang penggila sci-fi seperti saya, konsep time travelling sudah akrab didengar telinga. Pun segala pro dan kontranya---memungkinkan atau tidak, teori-teori wormhole dan butterfly effect sebagai pintu periode, semua sudah pernah saya dengar dan saksikan (dalam film, of course!).

Dalam tantangan #TheKacrutMenulis kali ini, izinkan saya membahas Time Travelling dalam cerita fiksi berikut. Selamat menikmati.. :)


"Hey, Dul, minggir kau. Ini tempatku!" Seruan itu mengagetkan Abdul. Yang menghardik hanya tertawa. Merasa menang. "Ha..Ha.. Sori, brader. Tapi aku serius, kau minggirlah agak ke sana sikit," nada suara orang tadi lebih lunak, meski tetap lantang, demi menyaingi bisingnya gemeretak roda besi menggilas rel kereta api. Tanpa menjawab, Abdul menggeser pantatnya tiga kali, menjauh dari Samir.

"Lagi ngapain sih kau?" Samir mendekatkan wajahnya ke wajah Abdul, lalu mengikuti arah pandangan lelaki itu. Dua, tiga kali, seakan mencoba mengkalibrasi pandangan Abdul dan dirinya, Samir lantas mengangguk-angguk. "Ah, kau lihat cewek rupanya!" Samir mendengus, lalu setengah tak peduli, ia mulai bersandar pada Abdul. Yang disandari menoleh, jengah, seraya memposisikan diri agar lebih nyaman. Meski secara batin Abdul tidak keberatan, secara fisik ia tetap merasa berat disandari tubuh Samir yang tambun itu.

"Dapat berapa kau hari ini?" Samir bertanya sambil garuk-garuk punggung. Tangannya yang menggaruk dengan kasar terasa mendorong-dorong bahu Abdul. "Sudah makan?" tanya Samir lagi, tanpa menunggu jawaban dari pertanyaan yang pertama. Tetap, Abdul tidak menjawab. Tubuh mereka bergoyang-goyang mengikuti irama kereta api terakhir malam itu.

Sudah malam, tapi kereta ekonomi masih penuh sesak. Sebagian penumpang, Abdul yakin, tidak bayar. Penumpang ilegal. Tapi masinis dan kondektur kereta api ekonomi malam tampaknya tidak pernah keberatan dengan penumpang ilegal itu. Mungkin mereka berpikir, biarlah, yang penting orang-orang ini tidak memicu keributan, hitung-hitung membantu mereka pulang ke rumah masing-masing setelah seharian capek kerja di ibukota.

Abdul sendiri lebih senang menumpang di kereta api ekonomi malam. Penumpangnya rata-rata berkarakter ramai, tidak individualis, seperti penumpang kereta AC. Kadar toleransi pun tinggi. Jika melihat seorang perempuan, tua atau muda, berdiri, para lelaki yang kebetulan dapat tempat duduk, segera menawarkan tempat duduknya.

Malam ini saja Abdul menyaksikan sendiri ramainya para pengamen, pedagang, dan kuli-kuli bangunan, seperti dirinya, menikmati malam dengan lantunan lagu dangdut populer semacam Ayu Ting Ting dan Juwita Bahar dari band pengamen yang melakukan live performance. Belasan kuli bangunan malah berinisiatif berjoget-ria, membuat penumpang kelas pekerja kantoran, lelaki dan perempuan, cekikikan melihat tingkah mereka.

Abdul tersenyum. Matanya tetap menatap ke arah perempuan yang Samir singgung tadi. Ya, Samir benar, ia sedang memandangi perempuan itu. Perempuan bewajah cantik, berkerudung hijau, dengan tubuh semampai. Abdul memandangi perempuan itu penuh cinta. Ia tahu siapa perempuan itu, tapi sang perempuan pastinya tidak tahu siapa Abdul. Dan sebaiknya memang perempuan itu tidak tahu bahwa dirinya ada. Cukup di sini dan begini saja, Abdul sudah merasa puas.

Awalnya Abdul begitu terperangah saat pertama bertemu dengan perempuan itu. Rani, nama perempuan itu.  Tepatnya, Maharani, yang artinya Maharatu. Abdul tahu, karena ia yang menamainya begitu. Nama yang indah.

"Lai, kalau mau kenalan sama itu cewek, samperin sajalah," kata Samir. Tanpa Abdul sadari, Samir tidak lagi bersandar padanya, melainkan sedang memperhatikannya. "Sudah berapa bulan kau cuma pandangi dia saja. Jangan jadi pengecut lah," Samir tertawa.

Abdul tersenyum. "Kau benar, kawan. Malam ini aku akan menegurnya," katanya, sambil menepuk-nepuk bahu Samir. Yang ditepuk terkejut. Selama empat bulan ia mengenalnya, Abdul tidak pernah melakukan kontak fisik dengan siapapun. Meski ramah dan rajin membantu kawan-kawan lainnya, Abdul sangat jarang berbicara.

Entah kenapa, Samir mendadak merasa ia tidak akan bertemu lagi dengan Abdul. Perasaan itu mendorong Samir untuk merangkul Abdul. Yang dirangkul, lagi-lagi hanya tersenyum, bijak, seraya menguatkan tepukannya bahu Samir. "Jaga dirimu, kawan," ujar Abdul. Samir tak mampu menjawab. Drama lima detik itu tidak ada yang memperhatikan, karena semua penumpang sibuk melihat joget dangdut di tengah ruangan gerbong.

Usai melepaskan rangkulan Samir, Abdul mendekati perempuan bernama Rani itu.

"Pulang malam, Mbak?" tegur Abdul. Tubuhnya condong ke arah Rani, sedangkan tangannya bergelantungan di salah satu besi penyangga.

Perempuan yang ditegurnya melirik, curiga. "Oh, saya tidak bermaksud jahat. Hanya ingin memberikan ini," sambung Abdul seraya merogoh kantong celana dan menyodorkan kalung berpendan batu oval berwarna hijau dengan sebilah garis cahaya di tengahnya.

Perempuan itu keheranan. Masih tampak takut, walau sikap tubuhnya terlihat berani. Lelaki di samping perempuan itu tampak siaga, mungkin takut Abdul bermaksud jahat. "Tenang aja, Mas, saya kenal dengan Mbak Rani ini," kata Abdul sambil tersenyum ramah kepada lelaki tersebut. Melihat kharisma dan ketulusan dari senyum Abdul, sikap lelaki tadi mengendur.

"Maksudnya Mas bilang kenal saya, kenal dari mana? Kok memanggil saya Rani?" akhirnya sang perempuan angkat suara.

"Itu nama Mbak, kan?"

"Bukan. Itu bukan nama saya," kata sang perempuan sambil tertawa sumbang.

Abdul tersenyum, "Saya tahu. Nama Mbak adalah Rayjihan Maharani. Rani."

"Lho, Jihan, kok Mas ini tahu nama lengkapmu?" kata lelaki yang duduk di samping itu.

"Mas tau dari mana?" kali ini sikap Rani berubah drastis. Kaget, tapi lebih rileks. "Tidak ada yang memanggil saya Rani, kecuali..."

"Sekali lagi, saya nggak bermaksud mengganggu Mbak. Hanya ingin memberikan ini," Abdul kembali menyodorkan kalung tadi ke tangan Rani. Kali ini Rani menerima. Ia menggenggam kalung itu. Semakin terkejut saat memperhatikan batu mata kucing berwarna hijau itu.

"Ini......" lidah Rani mendadak kelu, "Mas, ini kan...." Ia terlihat kebingungan, bolak-balik berbicara dengan lelaki di sampingnya dan kepada Abdul. Farid, lelaki di samping Rani, lebih bingung lagi. Ia tidak mengerti apa yang dibicarakan Rani.

Sementara itu Abdul mengangguk, di wajahnya masih tersemat senyuman lebar. Tanpa Rani menyelesaikan kalimatnya pun, ia sudah mengerti. "Kamu sudah besar. Salam hormat saya untuk ibumu," ujar Abdul, bersiap melangkah.

"Tunggu! Tunggu!" Rani mencoba meraih tangan Abdul, antara bingung dan shock.

Farid, makin bingung, "Lho?"

"Tunggu!" Rani bangkit dari duduknya, mencoba mengejar Abdul, lalu memeluknya cepat-cepat. Keadaan di gerbong kereta mendadak berubah. Sebagian besar penumpang mengira ada yang kemalingan.

"Ada apa? Ada apa?" penumpang saling bersahutan.

Tidak ingin menarik perhatian lebih lanjut, Abdul melepaskan pelukan Rani. Cepat-cepat ia berbisik, "Kita akan bertemu lagi. Kita akan bertemu lagi."

Rani, tampak enggan melepaskan pelukannya, tapi tangan kanannya ditarik oleh Farid, yang lebih shock lagi melihat pelukan tiba-tiba itu. Rani melepaskan diri dari tarikan Farid dan menyambar bros yang tersemat di jilbabnya lalu ia tempatkan di telapak tangan Abdul. Tersenyum, Abdul menerimanya, kemudian menghilang di antara penumpang yang mulai mengerumuni Rani.

"Tidak, saya tidak apa-apa. Tidak dijambret," kata Rani, menjawabi penumpang yang bertanya.

Setelah keributan itu mereda, Farid, dengan wajah masygul memandangi Rani. "Nanti saya ceritakan. Saya janji. Tapi jangan kaget.."

Pada waktu bersamaan, Abdul sudah berada di ujung gerbong, menghadap ke luar. Sesekali ia melihat ke jam tangannya. 'Sebentar lagi,' gumam Abdul, dalam hati. Beberapa menit kemudian, di suatu tempat di antara sawah dan perkebunan yang gelap di daerah Bogor, waktu tampak terhenti bagi Abdul.

Kalem, ia melihat ke dalam gerbong yang disesaki penumpang. Semua penumpang tampak seperti patung. Terdiam. Kepulan asap rokok pun berhenti di udara. Abdul mengangguk. Ia turun dari kereta dan melangkah sekian ratus meter melintasi persawahan dan perkebunan. Suasana gelap gulita hanya diterangi bulan berusia 21 hari di langit malam. Abdul berhenti di hadapan batu gunung berukuran cukup besar yang  terhunjam ke tanah di pinggir sawah. Menunggu sesaat.

Tak lama sebuah cahaya berpendar di udara. Berwarna ungu terang, pink dan putih. Awalnya kecil. Lama-lama membesar, membentuk vortex. Berdenyut, membesar lalu mengecil. Cahaya ungu terang, merah muda, kuning gading dan putih tampak melingkar dan meletup-letup di permukaan luar. Di tengah vortex hanya kegelapan dengan pijar hijau cerah. Abdul mengucap beberapa baris kalimat doa, lalu masuk ke tengah vortex. Tubuhnya segera lenyap ditelan vortex, yang kian mengecil, dan akhirnya hilang.

Di suatu tempat, Rani menunjukkan kalung berbatu mata kucing hijau kepada ibunya. Sang ibu memandangi kalung itu, wajahnya tersungging senyum. "Sekarang kamu percaya kan, Nak? Ibu menghitung, saat bertemu tadi, ia pasti masih terlihat berusia 30 tahunan. Betul kan?"

"Iya, Bu. Apa saya bisa bertemu dia lagi ya, Bu?"

"Mungkin bisa. 20 tahun lagi dari sekarang," kata sang ibu, seraya meletakkan tangannya di kepala Rani. "Itulah alasan kenapa ayahmu tidak bisa berdiam di satu masa terlalu lama. Tugasnya adalah menjelajah waktu. Bersyukur kita masih diberi kesempatan bertemu. Yang jelas, dia menyayangimu. Selalu. Ingat itu, Nak.."

Sementara itu, di tahun 2022. Abdul terbangun di sebuah surau mesjid....